Written by  Rhizal NST
in Conveyor Belt Global News
Tags
Hits 893

Ekspor Bijih Besi KW II Diperkirakan Turun 15%

24
Apr 2012
(0 votes)

Biji Besi

Larangan ekspor bijih besi non-olahan yang rencananya mulai berlaku 1 Mei 2012 diperkirakan akan menyebabkan ekspor produk tersebut turun lebih dari 15% pada kuartal II 2012.

Satwiko Darmesto, Deputi Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik, memperkirakan pada kuartal III 2012 ekspor akan kembali pulih karena ekspor bijih besi olahan mulai berjalan.

Seperti dikutip Bloomberg, pemerintah saat ini tengah bersiap memberlakukan larangan ekspor bijih besi yang belum diproses. Menurut Thamrin Sihite, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, mulai 1 Mei 2012 perusahaan pertambangan akan dilarang mengekspor bijih besi.

Larangan tersebut akan dicabut bagi perusahaan yang menyerahkan proposal untuk membangun usaha pemrosesan dan pemurnian bijih besi di Indonesia. Sejauh ini sudah 17 perusahaan yang menyerahkan proposal pembangunan bisnis tersebut.

Larangan ekspor bijih besi yang belum diproses diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor barang tambang Indonesia. Selama ini, Indonesia terkenal sebagai negara pengekspor barang tambang mentah seperti bijih nikel dan bauksit, sedangkan pemrosesan barang tambang dilakukan di luar negeri.

Menurut Satwiko, larangan ekspor bijih besi akan berdampak pada penurunan ekspor bijih besi non-olahan yang cukup besar hingga lebih dari 15% pada kuartal II. Tahun ini, kontribusi ekspor bijih besi terhadap total ekspor sekitar 18%.

Penurunan ekspor ini diperkirakan akan berlangsung hingga industri pengolahan selesai dibangun, namun hingga kini pabrik pengolahan belum siap. Satwiko mengatakan Tim Tarif hingga saat ini belum menentukan besaran bea keluar yang akan diberlakukan pada bahan mineral.

Menurut data Badan Pusat Statistik, ekspor bijih, kerak, dan abu logam pada Januari-Februari 2012 sebesar US$ 0,87 miliar atau 3,5% dari total ekspor non-migas yang mencapai US$ 24,77%. Jumlah tersebut turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 1,18 miliar atau 4,96% terhadap total ekspor non-migas.

Edy Putra Irawady, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, mengatakan larangan ekspor bijih besi non-olahan merupakan pelaksanaan Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara. Kebijakan ini akan menurunkan ekspor bijih besi non- olahan, tetapi hanya sementara.

"Ini seperti kasus rotan dan crude palm oil beberapa waktu lalu. Paling tidak pada kuartal III 2012 ekspor akan kembali normal karena sudah mulai mengekspor bijih besi olahan sejalan dengan berkembangnya industri pengolahan,” katanya.

Dengan larangan tersebut, ekspor bijih besi non-olahan akan berkurang. Namun, ekspor bijih besi olahan akan meningkat signifikan dan secara nilai akan lebih tinggi dibandingkan ekspor bijih non-olahan. "Kita dapat nilai tambah yang lebih besar dengan kebijakan ini, nilai ekspor yang tinggi dan lapangan kerja,” tuturnya.

Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian, mengatakan esensi Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara adalah untuk mengembangkan industri hilir dengan tujuan meningkatkan nilai dan lapangan pekerjaan. Rencananya, setiap pengolahan tambang harus memiliki roadmap pengembangan industri hilir dan diserahkan kepada pemerintah.

Pemerintah juga menyiapkan disinsentif untuk ekspor bahan baku yaitu dengan mengenakan bea keluar sementara. Sementara ekspor yang memberikan nilai tambah tidak dikenakan bea keluar.

Latif Adam, Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan kebijakan larangan ekspor bijih besi non-olahan itu harus dilihat secara komprehensif. Kebijakan ini akan menurunkan ekspor bijih besi secara signifikan dan mengurangi total nilai ekspor karena bijih besi merupakan ekspor utama Indonesia. Namun, langkah ini sangat membantu industri mendapatkan bahan baku.

Menurutnya, ke depan pemerintah perlu membuat aturan untuk menghindari bijih besi non-olahan tidak terpakai di dalam negeri antara lain dengan menghitung kebutuhan dalam negeri dan sisanya diekspor. Kebijakan ini lebih baik daripada mengenakan bea keluar untuk ekspor bijih besi non-olahan.

http://www.indonesiafinancetoday.com/read/25475/Ekspor-Bijih-Besi-Kuartal-II-Diperkirakan-Turun-15

Related items (by tag)

Latest from Rhizal NST

back to top